Senin, 03 November 2014
Selasa, 28 Oktober 2014
LANDASAN TEORI
08.01
No comments
LANDASAN TEORI
A.
Jaringan
Lokal Akses Tembaga (JARLOKAT)
- Pengertian
Jaringan Lokal Akses Tembaga
Jaringan lokal akses tembaga adalah jaringan yang menghubungkan antara setral sampai
dengan pelanggan dengan menggunakan kabel tembaga atau fisik.
Gambar
2.1 Konfigurasi Jarlokat Telepon Biasa
Gambar 2.2 Konfigurasi Jarlokat Telepon
Speedy
Keterangan gambar 2.1 dan
2.2 :
0
: Sentral
1
: Main
Distribution Frame (MDF)
2
: Kabel Primer
3
: Rumah Kabel (RK)
4
: Kabel Sekunder
5
: Distribution
Point (DP)
6
: Kabel Drop Wire
7
: Kotak Terminal Batas (KTB)
8
: Indoor
Cable
9
: Socket
10
: Pesawat Telepon
11
: Splitter
12
: Modem ADSL
13
: Personal
Computer (PC)
1.
Bagian
dari Jaringan Lokal Akses
Tembaga :
a.Sentral
Sentral merupakan pusat
kegiatan data, seperti PSB, pemblokiran
sementara.
b.
Main
Distribution Frame (MDF)
MDF
sering juga disebut dengan Rangka Pembagi Utama (RPU). MDF adalah suatu ruangan
yang berada di dekat sentral telepon yang merupakan tempat persambungan antara
kabel dari sentral dengan kabel yang berada di luar sentral telepon.
1).
Fungsi MDF :
a).
Tempat
penyambungan antara kabel primer dengan kabel sentral.
b).
Tempat
pengetesan dan melokalisir gangguan.
c).
Tempat
pemblokiran sementara / pengisolir pelanggan yang menunggak administrasi.
d).
Fleksibilitas
saluran.
2).
Persyaratan ruangan MDF :
a).
Lokasi MDF
MDF
harus berada di dekat ruang sentral, karena seperti yang disebutkan diatas, MDF
adalah tempat penterminasian kabel dari sentral dengan kabel yang kearah luar.
MDF biasanya terletak di bawah
sentral telepon untuk STO bertingkat atau di samping sentral telepon untuk STO
yang tidak bertingkat.
b).
Keadaan di ruang MDF :
1)
Ruangan harus selalu bersih.
2)
Mempunyai
ventilasi yang baik.
3)
Dilengkapi
Fire Alarm Protector dan Alat Pemadam.
4)
Dilengkapi
tangga sorong beroda dengan tinggi yang sesuai ruangan MDF.
5)
Suhu ruangan harus selalu terjaga karena perangkat di
dalamnya sangat rentan terhadap suhu tinggi. Biasanya suhu di ruangan MDF
berkisar antara 16º C - 20 º C.
c. Rumah
Kabel (RK)
Rumah Kabel merupakan salah satu bagian penting dalam
suatu jaringan kabel telepon. Rumah Kabel menghubungkan antara kabel primer
dengan kabel sekunder. Dengan kata lain, RK adalah titik terminasi antara kabel
primer dan kabel sekunder / akhir dari kabel primer dan awal dari kabel
sekunder. Fungsi lain Rumah Kabel :
1).
Tempat menterminasikan antara kabel primer
dengan kabel sekunder.
2).
Tempat melaksanakan penjumperan antara blok terminal sisi primer dengan blok terminal sisi sekunder.
3).
Tempat melaksanakan pengetesan dalam melokalisir
gangguan.
4).
Tempat membagi kabel primer menjadi beberapa
kabel kecil.
5).
Fleksibilitas
saluran.
d.
Distribution
point (DP)
Distribution Point (DP) sering juga
disebut dengan Kotak Pembagi (KP). DP adalah titik terminasi antara kabel
sekunder ataupun kabel primer dengan kabel penanggal / Drop Wire (DW).
1).
Fungsi DP :
a).
Terminasi akhir
kabel primer dan terminasi awal Drop Wire
(DW) pada DCL atau terminasi akhir kabel sekunder dan terminasi awal DW pada
DCTL.
b).
Tempat mutasi jaringan yang menuju rumah pelanggan.
c).
Tempat melokalisir gangguan.
2).
Jenis DP :
a).
DP Atas Tanah
DP ini dipasang pada tiang telepon dan ada juga yang
dipasang di dinding. Umumnya DP mempunyai kapasitas 10
pasang untuk yang kecil dan 20 pasang kabel untuk yang
besar.
b).
DP
Bawah Tanah
Umumnya DP ini dipasang pada lubang
kecil di dinding yang sering disebut pit hand hole.
e.Kotak
Teminal Batas (KTB)
Merupakan
tempat persambungan kabel penanggal dengan kabel yang dipasang di dalam rumah
pelanggan (indoor cable).. Blok terminal ini biasanya dipasang
di luar dinding rumah para pelanggan.
f.
Socket
Socket
merupakan terminal penghubung antara kabel indoor
dengan
utas pesawat telepon. Socket mempunyai terminal RJ-11,
dan
terpasang pada dinding rumah, berfungsi sebagai terminal
masuknya
utas pesawat telepon.
g.Pesawat Telepon
Sebagai alat untuk melakukan dan menerima panggilan.
h.
Personal
Computer (PC)
Sebagai alat untuk melakukan pengetikan, browsing
internet, dsb.
2.
Jenis-jenis Kabel Dalam Jaringan Lokal Akses Tembaga
a.
Kabel primer
Kabel
primer merupakan kabel yang menghubungkan MDF suatu sentral telepon dengan RK pada daerah catu tidak langsung
atau DP pada daerah catu
langsung
b.
Kabel sekunder
Kabel
sekunder adalah kabel yang menghubungkan RK ke DP pada daerah catu tidak
langsung.
B.
Perangkat dan
Peralatan di Ruang MDF
1.
Blok
Terminal Vertikal
Blok terminal vertikal disebut juga Primer,
dihubungkan dengan blok terminal
horisontal menggunakan
jumper wire. Pada STO SPC analog
maupun SPC digital blok terminal yang digunakan
berkapasitas 100 pair. Blok Terminal Vertikal berfungsi
sebagai :
a.
Tempat
pengisoliran dan pengetesan.
b.
Menghubungkan Kabel Primer dengan kabel jumper dari EQN pada Jaringan Telepon Biasa.
c.
Menghubungkan Kabel Primer dengan
kabel jumper dari Terminal Blok DSLAM
yang kemudian diteruskan ke Terminal Blok Vertikal pada Jaringan Telepon
Speedy.
Gambar 2.3 Blok Terminal Vertikal / Primer
2.
Blok
Terminal Horisontal
Rak
ini disebut juga dengan EQN,
dipasang pada RPU ke arah sentral dengan kapasitas 100 pair. Cara menterminasikan sama dengan Blok
Terminal Vertikal. Blok Terminal Horizontal berfungsi sebagai:
a.
Terminasi
awal di MDF.
b.
Tempat
penyimpanan nomor-nomor pelanggan.
c.
Menghubungkan
kabel dari sentral menuju Blok Terminal Vertikal pada Jaringan Telepon Biasa.
d.
Menghubungkan
kabel dari sentral dengan kabel jumper menuju Blok Terminal DSLAM, kemudian
diteruskan ke Blok Terminal Vertikal pada Jaringan Speedy.
Gambar 2.4 Blok Terminal Horisontal / EQN
3.
Digital Subscriber Link Access Multiplex
(DSLAM)
DSLAM adalah perangkat jaringan yang
terletak di dekat lokasi pelanggan, yang menghubungkan sambungan pelanggan
digital kepada backbone internet
berkecepatan tinggi dengan menggunakan teknik multiplexing.
Ada 2 macam DSLAM,
yaitu:
a.
DSLAM-IN berfungsi untuk menghubungkan antara kabel jumper
dari Blok Terminal Horisontal / EQN dengan
kabel yang menuju DSLAM-OUT.
Gambar
2.5 DSLAM-IN
b.
DSLAM-OUT berfungsi menghubungkan antara kabel dari DSLAM-IN dengan kabel yang menuju ke
Blok Terminal Vertikal / Primer.
Gambar
2.6 DSLAM-OUT
4.
Test Phone
Digunakan untuk mengetes atau
mengecek saluran yang sudah diinstal tembus atau mati.
Gambar 2.7 Test Phone
5.
Insertion Tool / Krone
Alat
menyisipkan dan memotong kabel jumper saat penjumperan pada EQN, Primer, dan DSLAM.
Gambar 2.8 Insert tool / Krone
6.
Kabel
Jumper
Menghubungkan EQN dengan Primer, EQN dengan DSLAM,
DSLAM dengan Primer.
Gambar 2.9 Kabel Jumper biru putih dan merah putih
7.
Tang
Potong dan Tang Jepit
Untuk memotong , mengupas, dan
menjepit kabel.
Gambar 2.10
Tang Potong (kiri) dan Tang Jepit (kanan)
8.
Ulir
Berfungsi memutar inti kabel pada blok terminal
berbentuk batang.
Gambar
2.1
Biodata
06.53
No comments
Nama saya Muhammad Rakha ,
Saya berasal dari Banjarbaru
Riwayat pendidikan dari SDN Landasan Ulin Timur 2 kemudian lanjut ke SMPN 4 Banjarbaru dan sekarang saya bersekolah di SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru kelas XII E.
Saya sekarang tinggal di Kampung Baru, Landasan Ulin
Mungkin cukup itu saja ,
Terima kasih :)
Saya berasal dari Banjarbaru
Riwayat pendidikan dari SDN Landasan Ulin Timur 2 kemudian lanjut ke SMPN 4 Banjarbaru dan sekarang saya bersekolah di SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru kelas XII E.
Saya sekarang tinggal di Kampung Baru, Landasan Ulin
Mungkin cukup itu saja ,
Terima kasih :)
Senin, 27 Oktober 2014
PENUTUP
06.20
No comments
Hasil Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di Kantor Divisi Access
Area Malang Kota selama tiga bulan dibuat dalam laporan berdasarkan pada pengalaman, pelajaran, praktek dan data-data
yang dihimpun selama PSG. Program PSG yang telah dilaksanakan memberikan
manfaat yang sangat besar bagi penulis dan seluruh siswa-siswi SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru pada umumnya. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan masih terdapat
banyak kekurangan, yang disebabkan karena keterbatasan pengetahuan yang
penulis miliki.
Pada akhir laporan PSG, penulis
mencoba membuat beberapa kesimpulan dan saran-saran yang semoga dapat
memberikan manfaat bagi penulis dan para pembaca.
A.
Kesimpulan
1.
Jaringan lokal akses tembaga
merupakan jaringan
yang terbentuk oleh berbagai unsur dan konfigurasinya yang dihubungkan dengan
kabel tembaga.
2.
Pembacaan nomor pada Blok Terminal Horizontal atau EQN,
Blok Terminnal Vertikal atau Primer, DSLAM-IN dan DSLAM-OUT harus teliti. Pada
saat pasang baru, jika tidak teliti tentunya hasil tidak sesuai data.
3.
Pencabutan kabel telepon dan speedy juga harus teliti
saat pengetesan, jika benar-benar nada sibuk maka kabel bisa langsung dicabut.
Tetapi jika nomor itu aktif dan tidak sama dengan data, maka itu sudah pasang
baru.
4.
Secara umum, praktek di
lapangan dengan teori yang diberikan tidak selalu sama. Praktek lebih disesuikan dengan kondisi
lapangan,
sedangkan teori lebih ditekankan pada spesifikasi yang
telah ditentukan.
5.
Bagian-bagian PT. TELKOM
seperti sentral, MDF dan jaringan lokal merupakan sistem yang tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.
6.
PT. TELKOM berusaha
menyediakan berbagai pelayanan jasa telekomunikasi dengan kualitas yang terbaik
demi melayani masyarakat dengan layanan yang mudah, cepat, dan memuaskan.
B.
Saran
1.
Saran bagi PT. TELKOM
a.
Hendaknya pembimbing lebih banyak memberikan
kesempatan dan kepercayaan kepada siswa dan siswi
yang melaksanakan PSG untuk terjun langsung dalam pekerjaan.
b.
Mutu
pelayanan terhadap pelanggan harus ditingkatkan dalam rangka mendukung
pembangunan nasional khususnya dalam bidang pertelekomunikasian.
c.
Perlu
adanya evaluasi secara rutin antara siswa dan siswi dengan pembimbing
lapangan untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa dan siswi
menguasai materi maupun praktek yang diajarkan.
d.
Lebih memperhatikan
siswa dan siswi sehingga apabila siswa tidak ada kesibukan maka
pembimbing dapat memberikan kesibukan yang lain bagi siswa dan siswi.
e.
Sarana
dan prasarana kerja hendaknya memadai demi kelancaran proses pekerjaan.
2.
Saran untuk Sekolah
a.
Sebaiknya pihak sekolah memberikan panduan penulisan laporan yang kompleks dan
sedetil-detilnya agar mempermudah siswa dan siswi untuk menulis dan menyusun laporan.
Serta
memudahkan dan meringankan guru pembimbing dalam memberi kosultasi kepada murid
yang dibimbing.
b.
Pelaksanaan PSG harus
direncanakan lebih efektif untuk kelancarannya.








.png)
.png)





















